
BROMO....tempat ini yang sempat mengalahkan SAWARNA, secara Bromo lebih dulu saya dengar dibandingkan dengan Sawarna. Tapi keduanya punya keindahan dengan ciri khasnya yang berbeda. Penasaran, seperti biasa cari-cari info bagaimana menuju ke sana. Awal mula saya ke Bromo adalah gara-gara saya bete dikantor, kebetulan area kerja saya Jawa Timur dan sekitarnya. Melipirlah saya sebentar ke sana. Semalam saya pikir cukup. Dan memang lagi rejeki saya bertemu dengan BROMO, ada seseorang yang bersedia mengantar saya sampai kesana, tanpa harus naik angkot. Pun demikian, saya tetap penasaran dengan jalur angkotnya yang konon katanya mudah. (Memang gampang sih).
Nah, berhubung banyak banget pertanyaan yang masuk ke inbox saya di FB, tentang bagaimana menuju ke Bromo. Nih saya kasih jalurnya. Ada beberapa jalur yang bisa kita tempuh. Lewat Malang, Probolinggo, satu lagi saya lupa. Kali ini yang ingin saya share melalui Probolinggo, karena hapalnya ya melalui situ. Heheh...

Kalau dari daerah seluruh Indonesia, pastinya kita mampir dulu di Surabaya. Dari Surabaya kita lanjutkan perjalanan dengan naik bis melalui terminal Bungurasih dengan tujuan Jember. Bisa naik ekonomi or eksekutif tergantung duitnya. Tiketnya 32ribu untuk eksekutif, tapi setelah solar naik entah jadi berapa. Nah, nanti turun di terminal Probolinggo, awas jangan sampe ketiduran, ntar nyampe ke Jember lagi. Dari terminal ini, kita berjalan keluar terminal, biasanya sudah banyak orang-orang yang berteriak-teriak "Bromo..Bromo..." Angkudes...alias angkutan pedesaan berupa mobil elf sudah siap menanti kita diluar terminal bagi para tamu Bromo. Ongkosnya terakhir sebelum solar naik 25ribu. Kalau nggak mau nunggu lama, sebaiknya angkudes ini penuh sejak dari terminal. Karena kalau tidak, tau sendirilah. Ngetem itu pasti bagi semua angkutan. Perjalanan dari Probolinggo hanya memakan waktu 2jam, plus berhenti nungguin penumpang.

Pemandangan menuju Bromo itu cakep. Apalagi saat mulai menanjak, bukit-bukit dengan jurang dikanan kirinya sudah menunggu kita. Seolah-olah pamer n pengen bilang, "ini belum seberapa...." Sampailah kita di Bromo....yang langsung disambut dengan para penjaja penginapan, guest house or hotel. Gak tega bilang calo, heheh. Kalau belum booking biasanya harga perkamar sekitar 175-200. Kalau sewa satu rumah sekitar 400rban, tergantung tawar menawarnya sih. Biasanya rumah tersebut lebih mahal kalau tersedia air panas. Secara tau sendirikan, dingin. Silahkan dipilih kamar-kamar yang sesuai dengan selera dan pastinya lagi-lagi duit. Nah angkutan selama di Bromo saat mengunjungi tempat-tempat indah bisa dipilih, pakai ojek atau sewa jeep. Kalau perginya cuma berdu sampai bertiga, mending pake ojek. Kalau perginya satu RT baru kita sewa jeep. Kapasitasnya 7 orang.


Ada beberapa tempat yang bisa kita kunjungi di Bromo. Pemandangan pertama yang menyambut anda adalah lautan pasir disekitar Gunung Bromo dan Gunung Batok. Dan yang paling terkenal adalah menunggu matahari terbit di Penanjakan. Berangkatnya harus jam 3 subuh dari Bromo. Karena biasanya rame dan pasti ngantri. Bisa-bisa sampai Penanjakan, matahari sudah nongol. Jangan kaget kalau sampai penanjakan anda akan bertemu dengan banyak sekali orang yang menunggu sang mentari terbit. Kata mereka moment paling indah. Dari Penanjakan ini kita bisa lihat sebuah kompleks pegunungan yang menakjubkan. Satu lagi, Tuhan mengirimkan setitik kecil surga di bumi.

Setelah puas melihat matahari terbit, kita bisa langsung menuju kawah Gunung Bromo. Gak terlalu sulit kok. Yang penting kuat aja berjalan diatas pasir, kalau habis hujan, si pasir agak padat jadi nggak terlalu menguras energi saat menanjak. Tapi kalau pas lagi musim kemarau, butuh tenaga ekstra buat menuju Kawah Gunung Bromo, kenapa? Bayangkan saja berjalan diatas pasir seperti apa. Kalau tidak kuat, jangan khawatir, ada jasa sewa kuda. 60-100ribu, naik-turun. Tapi tetap gak bisa sampe kawah, hanya sampai tangga saja. Selanjutnya silahkan lanjutkan perjuangan Anda. Hahah....

Tempat menarik lainnya, bukit teletubies alias padang savana yang terletak tepat di belakang Gunung Bromo. Sejauh mata memandang HIJAU.... cakeplah pokoknya. Konon katanya selalu hijau, baik musim kemarau apalagi musim hujan. Tapi kalau datang sekitar bulan Maret, hijaunya padang savana ini lagi bagus-bagusnya, karena musim hujan baru berlalu.
Habis dari Padang Savana kita bisa mampir dilautan pasir tempat syuting film, Pasir Berbisik. Nah, tempat-tempat tadi itu bisa kita datangi dengan menggunakan ojek atau jeep. Tinggal pilih saja.
Bagaimana dengan tempat makan? Jangan khawatir, disana sudah banyak warung makan yang menyediakan berbagai menu yang cukup komplekslah. Jadi jangan khawatir kelaparan di Bromo.
Nah....,segitu aja. Biar penasaran. Kalau cuma ngeliat foto n ngebaca blog ini pasti nggak puas. Jalan deh. Nambah wawasan, pengalaman, kalau Indonesia itu indah.
Komentar
Posting Komentar