ARIAH , Ketika Mimpiku Diwujudkan

Sudah menjadi kebiasaan saya kalau setiap Sabtu pagi adalah waktu berolahraga, simpel aja gak usah yang berat-berat. Lari pagi, tempat favorite saya adalah Monas, sengaja saya pilih Sabtu karena kalau Minggu ramai sekali. Seputaran...,dua putaran....,tiga putaran...terkadang jika lelah saya pun berjalan, mengatur nafas lagi. Sambil santai dan melihat Monas, entah kenapa tiba-tiba terbersit sebuah khayalan idealis yang agak susah bagi saya untuk membuatnya, tapi mungkin mudah bagi orang lain. Saya berpikir seandainya saja, ada pertunjukan orchestra disini, pasti keren, buat panggung yang besar. Udah itu aja. Hampir setiap saya lari pagi di Monas selalu pikiran itu yang muncul, makanya saya pun memutuskan untuk berhenti dulu main ke Monas karena jujur pikiran itu cukup mengganggu dan saya pun hanya bisa berdoa, entah nanti suatu saat pasti ada yang akan mewujudkan, meski tidak melalui tangan saya, karena saya percaya pasti hasilnya jauh lebih bagus jika ditangani oleh orang-orang yang tepat.

Bukanlah hal yang berlebih, saya suka musik, terutama musik yang dimainkan oleh banyak orang secara bersama-sama, seperti orchestra, dan marching band. Dan tari-tarian, apalagi yang menyangkut kebudayaan Indonesia.Gak akan habis ide untuk membuat sebuah seni pertunjukan mengenai Indonesia. Dan apakah berlebihan juga jika saya memimpikan tentang sebuah pertunjukan musik yang megah yang Indonesia Banget pastinya.

Hingga suatu hari, saat saya sedang menonton televisi munculah sebuah iklan tentang sebuah pertunjukan drama tari musikal, yang didukung oleh ratusan orang, tediri dari pemain orkes dan penari. "Wow...cepat sekali Tuhan," batin saya. Saya pun mulai berburu informasi mengenai Ariah. Dan begitu dapat tanggal dan waktu penampilannya, "ya Tuhan, kenapa bertepatan dengan acara di Bali," bete itu pasti. Saya mulai berpikir keras, bagaimana caranya agar saya bisa nonton, namun tidak menganggu kerjaan saya di Bali. Dan adalah sebuah kenekatan, menurut jadwal, saya harus ada di Bali hari Kamis, tgl 27 Juni, sedangkan acara mulai tgl 28-30 Juni 2013, setidaknya satu dari hari itu saya harus ada di Monas. Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah saya baru tau kalau nonton Ariah itu harus pake tiket, baik free alias lesehan sampai tiket berbayar. Yang jelas saya mulai berburu tiket balik ke Jakarta untuk tgl 28 dan balik ke Bali lagi esok harinya tgl 29, "menghilang" sehari dari pekerjaan bolehlah..., selama tidak merugikan siapapun :) 

Awalnya, hari Rabu, saya hendak "kabur" untuk cari tiket berbayar atau bagus kalau bisa dapat tiket lesehan, tapi waktu tidak memungkinkan, karena saya harus ada yang siapkan di kantor, dan sorenya saya berangkat ke Solo untuk selanjutnya ke Bali, perjalanan yang panjang. Sambil kerja, saya ngliat twit, tiba-tiba salah seorang teman meretweet kalau ada pembagian tiket gratis dengan menelpon ke no. yang sudah tercantum. Saya pun berusaha menelpon, tapi tidak pernah berhasil. Waktu sudah tidak memungkinkan saya untuk pergi membeli tiket, karena sore ini saya berangkat ke Solo. Tiket balik ke Jakarta sudah ditangan, tapi tiket nonton belum pegang sama sekali. Sempat minta tolong teman yang merupakan salah satu pemain orkes di Ariah, tapi saya yakin dia pasti sibuk banget, apalagi sudah mendekati hari H. Kalau usaha sudah dilakukan apalagi yang akan kita lakukan selain berdoa, "Kalau memang masih rejeki, saya pasti nonton, Tuhan tahu, saya tidak sedang berbuat jahat."

Siang itu saya berangkat ke bandara dengan rasa penasaran. Sambil menunggu boarding, saya pun makan hanya sekedar isi perut biar gak masuk angin, gak nafsu dan seperti biasa ngecek twit lagi, iri ngeliat orang-orang yang sudah dapat tiket lesehan. "Duh, masak mimpi sudah didepan mata, gak bisa nonton." Iseng saya mencoba menelpon no.hp yang ada di TL, eh diangkat. kurang lebih ngomongnya seperti ini "Hai Ria, kamu dapat 5 tiket gratis untuk hari Jumat, tgl 28 jam setengah delapan malam ya. Tiket bisa, kamu ambil di daerah Menteng, sore ini ya."    Saya sempat bengong, bingung mau jawab apa, Alhamdulillah, masih bisa nguasai emosi. Sempat bingung karena posisi saya sekarang berada di bandara dan saya harus ke daerah Menteng... duh Jakarta, pengen bisa terbang rasanya. Untungnya tiket bisa diambil oleh orang lain dengan membawa fotokopi KTP saya. Syukurnya saya sempat nyimpan fotokopi KTP dikantor, dan teman kantor saya bersedia mengambilkan tiket saya ke Menteng.  Tuhan, tau ini mimpi saya, dan Tuhan pasti mengijinkan saya buat menontonnya. Senang itu pasti. 

Kenapa saya ngotot pengen bisa nonton, pertama, acara ini adalah acara selalu ada dalam khayalan saya, yang kedua beberapa pertunjukan musik yang diadakan di Jakarta pada bulan Juni, tidak ada yang bisa saya tonton, dan saya tidak mau juga gagal menonton Ariah. Ketiga, saya datang saat mereka GR, ngeliat GRnya aja keren banget. 

Datang agak pagi, agar bisa nonton paling depan. Alhamdulillah, bagian depan masih kosong, langsung saja menuju karpet merah yang masih kosong itu. Sudah siap kamera dengan tiga lensa (halah), naluri tukang foto pasti ada untuk acara-acara seperti ini. 

Nah, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, saat para pemain musik menuju tempat masing-masing dan tak lama kemudian acara pun mulai. Secara musikalitas, luar biasa, secara kita tau siapa berperan serta disini. ERWIN GUTAWA. Dari awal sampe akhir mata gak berkedip, lampu, musik, nyanyian, tarian, menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, kalau orang lebih banyak menghasilkan dan sibuk dengan foto-foto Monas yang 'diselimuti' lighting yang luar biasa maka saya sibuk dengan para pemain di atas panggung. Tidak ingin melewatkan semua adegan yang terjadi. Jika seandaiaya saya bisa nonton dua kali, maka hari kedua saya akan memotret Monas yang malam itu tampak sangat gagah dari biasanya. 

Mungkin foto-foto dibawah ini bisa mewakilkan apa terjadi pada malam itu di  Monas, 28 Juni 2013, dan mengapa saya begitu ngotot ingin menontonnya secara langsung. 









Tata lampu dan panggung yang sangat indah menambah megah dan elegan pertunjukan ini, terlepas dari sebuah cerita yang konon katanya antiklimaks, maka perlu kita sadari bahwa tidak selamanya ending itu selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. 





Mencoba menghadirkan sebuah cerita yang tidak melulu berakhir bahagia, Ariah setidaknya mengajarkan kita bagaimana mempertahankan sebuah kehormatan dan harga diri, yang sudah sangat jarang kita jumpai.
Jangan lihat dari ending yang selalu kita inginkan bahagia, tapi lihat bagaimana sebuah kehormatan dan harga diri itu memang sangat layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan meski nyawa taruhannya. Masih adakah saat ini? Justru sebaliknya harga diri dijual murah demi apa saja asal untuk kepentingan diri kita sendiri. 

Setidak dari pertunjukan ini bisa kita ambil manfaatnya, bahwa jaman dulu orang begitu kuatnya 
membela harga diri, kehormatan dan martabatnya, 
Seharusnya dijaman yang sudah sangat maju ini,

dengan kualitas manusia yang seharusnya lebih baik dari jaman sebelumnya, setidaknya bisa jauh lebih ngotot untuk mempertahankan kehormatan dan harga dirinya. 


Kalau melihat semua pertunjukan ini, apa yang terpikir di benak saya, Alhamdulillah bangsa ini masih punya orang-orang yang disiplin, idealis, pekerja keras. Minimal orang-orang terlibat didalamnya memiliki 3 item itu, kalau tidak, pertunjukan ini tidak akan ada. Bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dengan budaya Indonesia yang saat ini keberadaannya sedikit memprihatinkan, kalau bukan kita, siapa lagi yang melestarikannya? 
Semoga apa yang saya tulis ini nyambung ya... secara ngalor ngidul entah kemana. 

Kerja keras itu memang berbuah manis. Jangan pernah bosan untuk berkarya dan menghasilkan seni pertunjukan yang fenomenal, yang tetap mengedepankan seni dan budaya Indonesia. Saya tunggu pertunjukan-pertunjukan berikutnya.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Enjoy Jakarta] Bermain Diujung Pelangi (Pulau Tidung)

BAHWA HIDUP ADALAH ....