Berjalan sendiri (Antara Berani dan Takut)

Berjalan sendiri? Jalan-jalan sendirian atau keleleran sendirian? Udah kayak anak hilang. Banyak yang nanya 
Emang enak? Enaklah (dia pikir makanan?) 
Gak takut? Takut sama siapa? 
Kalau kenapa-kenapa dijalan gimana? Yaaa nasib. Hahaha..., Insya Allah gak kenapa-kenapa selama niatnya baik. 

Entah berawal dari mana. Pergi-pergi sendirian itu menurut saya menyenangkan. Pertama, kita bisa suka-suka kemana tujuan kita, gak perlu bingung dan berdebat dulu dengan teman seperjalanan. Kedua bisa berhenti sesukanya. Yang jelas bisa moto-moto sepuasnya. Nah mungkin alasan terakhir ini yang menyebabkan saya lebih senang memilih jalan sendirian. Meski tidak sedikit juga saya sering jalan rame-rame bareng teman. Kemana aja? Kemana pikiran dan hati membawa. (Isshh bahasanya)



Kenapa juga sering pergi sendirian, karena banyak yang nolak kalau saya ajak (kasian amat) Secara mungkin perginya agak-agak menderita gimana gitu. Maklum bukan perjalanan mewah, jadi kadang-kadang males juga kalo ngajak. Apalagi kalau sepanjang jalan ngeluh. Hahahahaha....nyebelin banget. Tapi sebenarnya hanya masalah waktu dan kepentingan aja, pergi bareng teman, lebih banyak gagalnya dari pada berhasilnya. Meski persiapannya udah diatur jauh-jauh hari.

Jangan lihat susahnya, tapi lihat pengalaman yang akan kamu dapatkan. Yang paling penting adalah bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah seorang diri saat berada ditempat yang baru bahkan sangat asing bagimu. Tidak panikan dan tetap tenang, meski awalnya ya deg-degan juga, itu yang penting. Kalau kamu sudah bisa lalui itu semua, percaya deh kedepannya pasti dah biasa.  Paling yang bikin nyesel atau keder saat bertanya sama penduduk setempat. Waktu itu pas ke Sawarna "Pantainya masih jauh gak?" Si Ibu dengan santainya jawab "Udah deket, Lewat dua bukit lagi sama satu hutan lagi." Ngooklah si ibu, kalau ngomong suka-sukanya.   

Nikmati musik yang kamu suka selama perjalanan. Biasanya saya kalau jalan sendiri, apalagi kalau motoran dan menuju tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya dan jaraknya cukup jauh, biasanya memilih dengerin musik, karena gak mungkin juga naik motor sambil membaca buku apalagi sambil menjahit. Selain mencegah kebosanan, bisa menghilangkan ngantuk juga. Syaratnya pilih musik yang ngerock atau riang. Jangan musik-musik yang bikin sedih, yang ada kamu malah nangis sepanjang perjalanan, apalagi kalau baru putus, wasallam dah. Agak gak jamin bisa pulang dengan selaamat.  Sambil menikmati musik jangan lupa perhatikan petunjuk jalan. Kalau sudah nyasar itu artinya waktunya membuka headsetmu dan melihat kembali GPSmu  

Contoh pengalaman nih, Waktu itu perjalanan pertama saya sendirian, dari Lombok ke Surabaya. Naik bis. Waktu itu pas bertepatan dengan Pilpres,(tahun 1999) pemilihan KH. Abdul Rahman Wahid (alm) dan Megawati Soekarnoputri. Bis, baru saja tiba Bali, ketika Megawati ternyata kalah.  Apa yang terjadi di Bali saat itu, kerusuhan dimana-mana, karena tidak terima Megawati kalah. Semua dibakar, pohon-pohon yang tidak bersalah ditebangi terus dibakar ditengah jalan,  demikian juga nasib ban mobil di bakar juga. Alhasil bis yang kami tumpangi terjebak di Bali dan tidak bisa menyeberang ke Jawa ataupun kembali ke Lombok. 'Terdampar' di Bali selama 2 hari 2 malam, Kalau bisa jalan-jalan sih gpp. Selama dua hari cuma ngeliatin orang-orang yang bakar-bakaran dijalan. Ruko, mobil apa saja, mungkin kalau ada mantan yang lewat ikut dibakar juga kayaknya. Alhamdulillah, hari ketiga suasana berangsur pulih dan bis yang saya tumpangi bisa melanjutkan perjalanan ke Surabaya.  

Pengalaman gak asik ini yang membuat saya jadi gak panik, cuma deg-degan, ketika diturunkan ditengah jalan oleh KA yang saya tumpangi (Jember-Surabaya). Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Bukan karena gak beli tiket yaaa, tapi karena tiketnya salah tanggal. Ya sudah, itu yang saya bilang nasib, bukan nasib sih, tapi bloon, beli tiket tapi gak dicek tanggalnya. Ngemperlah di stasiun Tanggul sendirian, tengah malam.  Takut? Nggaklah, masih dinegeri sendiri ini. 


Motoran, sendirian (tetep). Gak jauh kok deket aja, Jakarta -Sawarna, cuma mau  ngeliat sunset. Ngelewati tepat asyik, berhenti sebentar.  Mlipir ke Malang, Balekambang dan kawan-kawannya, alasan yang sama, nungguin sunset dan sunrise. Meski pantai ini tidak langsung menghadap barat atau timur. Jadi yaaa hanya dapat lembayungnya saja.  

Sampai ditujuan, hanya bengong ngeliatin orang-orang disekeliling kalau ada orang. Mulai dari yang biasa saja sampai yang nggak biasa. Sesekali ditegur orang, sesekali senyumin orang yang lewat. Sesekali ngantuk. Dan kelamaan nongkrong juga bisa mengakibatkan perut kembung.

Bagi yang belum pernah nyoba jalan-jalan sendirian, ketempat-tempat yang baru dan jauh, cobain deh. Anggap aja ngetes diri sendiri. Yang ngasih tugas kamu, yang jawab kamu dan yang nilai ya diri kamu sendiri. Jalan-jalan sama teman ramai-ramai itu memang menyenangkan tapi kalau jalan sendirian kamu bakal dapetin sesuatu yang berbeda. Karena gak selamanya teman yang kita ajak jalan bisa terus bersama kita. 

Tunggu apalagi, Jalan aja, jangan nunggu diajak orang, Iya kalau ada yang ngajak, kalau nggak?    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Enjoy Jakarta] Bermain Diujung Pelangi (Pulau Tidung)

BAHWA HIDUP ADALAH ....

ARIAH , Ketika Mimpiku Diwujudkan