MARCHING BAND, 12 Menit Yang Tidak Murah

Perhelatan akbar marching band Indonesia, Grand Prix Marching Band 2015 (GPMB) berakhir sudah. Banyak cerita yang tersisa dan cerita yang akan siap dikisahkan kepada siapa saja dan tentang apa saja. Senang, susah, sedih, gembira apapun itu. Karena semuanya memang pantas untuk diceritakan. Kalau kita lihat perkembangan marching band Indonesia dari waktu kewaktu banyaklah perubahan Perubahan menuju kearah  yang baik pastinya. Hanya satu yang tidak berubah, biaya yang tetap mahal. 


12 menit adalah waktu yang sangatlah sebentar, kalau seandainya sempat membayangkan maka adalah hal yang aneh pertunjukan hanya 12 menit tapi dana yang digelontorkan tidaklah sedikit. Bukan seratus atau dua ratus ribu. Ratusan bahkan sampai tembus angka 9 digit... hanya 12 menit saja. Apakah bisa setara dengan konser-konser musik diluar sana? Mungkin bisa mengalahkan, karena kalau konser durasi waktunya sejam atau dua jam, tapi marching band cukup 12 menit saja. 

12 menit adalah waktu yang sangat sebentar untuk bisa menuangkan ide-ide kreatif nan briliant dan original bila perlu.  Orang-orang kreatif ini 'dipaksa' untuk bisa bercerita, bermusik dan bergerak hanya dalam waktu 12 menit,  Lagi-lagi ide itu tidaklah murah. Berpikir keras untuk menghasilkan pertunjukan yang tidak akan mudah dilupakan orang. Pertunjukan yang membuat penonton terkesan. Pertunjukan yang membuat penonton tidak bosan. 

12 menit adalah waktu yang sebentar tapi mereka tetap menciptakan equipment atau property-property yang tidaklah murah untuk menunjang sebuah pertunjukan dilapangan. Jembatan, kapal bahkan Taj Mahal pun bisa 'dipindahkan' ke lapangan display. Benar-benar murah

12 menit itu waktu yang sangat sebentar. Tapi latihan menuju ke 12 menit itu melibatkan banyak bentar. Melibatkan banyak pengorbanan, perjuangan, usaha dan kerja keras. 12 menit yang tidak murah.

Maka ketika tiket pertunjukan berdurasi "12 menit" ini dijual dengan harga yang fantastis saat GPMB kemarin, wajarkah kita protes? Mungkin tidak semuanya protes, lebih tepat bengong atau ngomel-ngomel, ngedumel, saya pun sempat terheran-heran juga. Tidak bermaksud membela GPMB disini yaaaaaa, terlepas dari apapun itu...., tapi coba kita lihat dari sisi yang berbeda. Hasil karya orang, hasil kerja keras sebuah tim yang spektakuler itu ternyata kita, sebagai orang yang katanya maniak marching band, masih belum bisa menghargainya. Kalau bukan kita, kamu dan saya yang menghargai, maka siapa lagi? 

"12 menit" ini menjadi tanggungjawab kita bersama, bagaimana membuat orang yang tidak paham tentang marching band, tapi mau untuk nonton dan menjadikannya agenda tahunan mereka untuk selalu datang di event ini atau event kejuaraan marching band lainnya. Membuat "12 menit" ini bukan tontonan yang murahan dan biasa saja. Karena mempersiapkannya tidaklah murah.

Itu artimya tugas dan tanggungjawab tim kreatif agar tidak sekenanya dalam membuat sebuah pertunjukan "12menit". Ingat pertunjukan yang Anda buat itu mahal. Ada harga ada barang.

Semoga cerita pendek ngalor ngidul ini berkenan. Tidak berkenan ya gak apa-apa. Toh saya diciptakan tidak selalu untuk membuat semua orang senang.
Salam Marching Band Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Enjoy Jakarta] Bermain Diujung Pelangi (Pulau Tidung)

BAHWA HIDUP ADALAH ....

ARIAH , Ketika Mimpiku Diwujudkan