
Event tahunan marching band terbesar di Indonesia berlalu sudah. Apa yang masih tersisa? Kenangan pastinya ya..., kenangan dapat pacar baru, sahabat baru, kesibukan, kepanikan sesi I (karena susah ngapalin display, partitur, gerakan, pukulan gak bersih-bersih, tiupan yang lebih sering falsnya dari pada benernya). Dan kepanikan sesi II ketika dana belum mencukupi untuk hidup aman di Jakarta nanti.


Grand Prix Marching Band, semua orang yang berkecimpung di dunia ini pasti sudah tahu event ini. Hanya saja, sayang yah pihak GPMB sendiri sepertinya tidak mengapresiasi kemajuan marching band Indonesia. Mungkin mereka lelah dan butuh piknik. Hmmm, maksudnya begini. Coba deh kalau boleh tau, berapa dana yang dihabiskan oleh satu unit untuk berangkat ke kejuaraan ini? Kalau masih di pulau Jawa, mungkin masih 'murah' tapi murahnya seberapa? Seharga mobil atau jangan-jangan rumah tipe 21 mungkin? Apa kabar dengan unit yang berasal dari luar pulau Jawa? Kalau seandainya si unit berasal dari band perusahaan atau instansi, mungkin bisa sedikit lega, kata-kata 'mungkin' disini menandakan kalau penulis memang bukan jebolan pemain marching band yang berasal dari perusahaan atau instansi swasta dan pemerintah. Apa kabar dengan teman-teman kampus? Justru menariknya membahas marching band kampus yang ikut sebuah kejuaraan besar.


Jika teman-teman berasal atau berada di marching band sebuah perusahaan atau instansi pemerintah, bersyukurlah, karena bisa lebih fokus untuk latihan, daripada nyari duitnya. Kalau salah tolong dibenerin yah, maklum, mantan pemain band kampus. Kenapa? Karena kalau band perusahaan 'mungkin' tinggal ngomong butuh apa, gak sampe sebulan, barang/alat yang dibutuhkan sudah ada. Coba kalau band kampus, dana itu ada, tapi harus gontok-gontokan dulu dengan bendahara atau keuangan, nanti TC makan apa? Nanti sewa bis pakai apa? Daun? Tak jarang sih ya, mereka ini para panitia non teknis pasti sering nangis bareng ketika nunggu duit dari rektorat taaakkkkk kunjung turun, padahal deadline DP dah tersenyum manis sambil melambaikan tangan dan pelatih sudah cerewetnya luar biasa minta ini itu, minta kain buat bendera baru, kalau dilihat lebih sering mirip pengen buka toko kain daripada buat bendera, belum lagi equipment pendukung dilapangan, yang bikin sakit gigi, sakit kepala (migren bolak balik), sakit hati. Sakit semualah pokoknya.

Tapi hebatnya, buat para band kampus ini. Karena kekurangan pemain (klise banget masalah ini) banyak yang rangkap jabatan, ya pemain, ya nonteknis. Semoga otak mereka gak geser yah, selain harus ngapalin musik dan kawan-kawannya, dia juga harus berpikir bagaimana duit, bagaimana peralatan (lengkap atau kurang, kalau kurang pinjam dimana?) bagaimana dengan pemain? Masih kurang atau kebanyakan? Mungkin di band perusahaan atau instansi, kepanitiaan ini juga ada, hanya saja apakah masalahnya sama dengan band kampus, coba kalau ada yang bisa cerita pasti asik.

Tapi kalau anggota bandnya masih SMP or SMA, memang sebaiknya mereka lebih fokus untuk main saja. Ada saatnya berstres-stres panik itu akan hadir, asal saat kuliah nanti lanjut ya marching bandnya.

Nah balik lagi ke GPMBnya..., mari berandai-andai sejenak. Seandainya biaya akomodasi dan transportasi selama di Jakarta ditanggung oleh panitia, maka bisa kita bayangkan berapa dana yang bisa dihemat. Ada berapa banyak band dari luar Jawa yang bisa ikut andil di event yang katanya paling besar ini. Dengan adanya 'bantuan' ini, bisa dipastikan unit-unit yang ikut kejuaraan ini tidak hanya ikut 2 tahun sekali, atau 5 tahun sekali (berasa pemilu), bahkan ada yang hanya ikut sekali trus tak ada kabarnya lagi. Nah kalau yang terakhir ini biasanya kesalahan pada band anda, bukan pada panitia GPMB. Seharusnya mereka bisa ikut setiap tahun, jadi siapa band keren di Indonesia itu, akan benar-benar terlihat disini. Seandainya lagi, bagi yang juara I GPMB selama 3 kali berturut dapat tiket ke DCI atau kalau itu kemahalan, bolehlah tiket ke event Internasional di negara tetangga. Tinggallah para pelatih yang sakit kepala mikirin ide kreatif selanjutnya. Itu sekelumit andai-andai dari saya.


Sebuah perjuangan, sudah dibahas diatas tadi, perjuangan buat nyari duit maksudnya. Perjuangan lainnya banyak banget. Coba kamu pikirkan bagaimana perjuangan kamu yang mungkin sering tidak kamu sadari, waktu pertama kali dapat alat brass, ketika niup hanya angin doank yang keluar, padahal sudah sekuat tenaga niupnya, sekarang kamu bisa main banyak lagu. Teman-teman di battery, alangkah susahnya traditional grip, jari manismu sudah tak manis ketika berair-air gara-gara lecet. Sekarang, kamu tinggal nyengir doank begitu main lagu dengan roll dan tempo cepat tanpa kotor sedikitpun. Bass drum, berapa kali harus ngulang pukulan-pukulan split, sampai tak jarang stick pelatih kadang ikut split ke arah kalian? Pemain multi tom? Berapa kali tangan kalian bingung ngeliat partitur yang kadang-kadang suka buat tangan keplintir sendiri. Teman-teman color guard harus mencoba berapa kali spin, harus nyoba berapa kali toss biar flag, rifle dan sabre gak mendarat dikepala atau di jempol kakimu? Perjuangan yang lain? Kamu pikirlah sendiri, bagiamana menyakinkan orang tuamu tentang kegiatan yang tidaklah murah ini. Bagaimana meyakinkan pacar kamu yang gak ikut MB, kalau kamu gak bakal selingkuh selama latihan *eh. Bagaimana kamu harus kejar-kejaran dengan tugas kuliah dan praktikum.

Pengorbanan. Secara tak sadar kita semua telah berkorban. Berkorban waktu dan tenaga. Kalau orang waras akan lebih memilih berada dirumah atau ngadem di mall daripada latihan berpanas-panasan, hujan-hujanan, pagi,siang sore, malam tak kenal waktu. Apalagi kalau bulan puasa, latihan dari buka sampai sahur. Bagi yang tidak kuat mungkin bisa melambaikan tangan ke SDM, mas, mbak saya keluar. Dan menangislah SDM karena harus nyari pemain lagi. Hahahah......
Tanggung jawab. Cukup satu orang untuk menghancurkan sebuah unit marching band. Mulai belajar bertanggungjawab, kalau saya tidak datang bagaimana dengan displaynya? Bolong-bolong donk. Bagaimana splitnya di bass drum? Bagaimana dengan musiknya? Bagaimana dengan gerakannya? Jangan nambah kerjaan pelatih deh harus ngelatih dirimu seorang hanya karena ketinggalan materi.

Mereka-mereka ini yang telah melewati perjuangan, pengorbanan dan tanggung jawab akan memiliki dedikasi yang tinggi. Mereka yang mempunyai dedikasi tinggi akan menjunjung tinggi juga komitmen mereka tanpa mengingkari janji .
Ketika seseorang cinta karena dedikasi, maka hal itu tidak akan sia-sia, walaupun harus dipaksa dan melelahkan mendera dan juga keletihan yang luar biasa, hal tersebut menjadi bahan bakar semangat untuk bisa terus memberikan yang terbaik sekalipun tidak boleh jatuh diberbagai hantaman dan kesulitan.
Akhirnya kamu sendiri bisa melihat dan menilai, bagaimana perjuanganmu selama ini. Sia-sia atau terbayar lunas?
Komentar
Posting Komentar