Kesempatan dan Pilihan Cinta
(Saya mendapatkan tulisan dibawah ini dari Cahyu Purnawan)
Bertemu adalah kesempatan.... Mencintai adalah pilihan.
Ketika bertemu seseorang yang membuat kita tertarik, itu bukan pilihan itu kesempatan...
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya..
Itu bukanlah kesempatan, itu adalah pilihan...
Bertemu adalah kesempatan.... Mencintai adalah pilihan.
Ketika bertemu seseorang yang membuat kita tertarik, itu bukan pilihan itu kesempatan...
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya..
Itu bukanlah kesempatan, itu adalah pilihan...
Ketika kita memilih bersama seseorang walau apa pun yang terjadi, justru disaat kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya dari pasangan kita, dan tetap memilih untuk mencintainya....
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.
Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang sebagai Kesempatan dalam hidup kita...
Tapi cinta yang dewasa, mencintai dengan komitmen dihadapan Tuhan dan manusia adalah Pilihan...
Kita berada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai..
Tetapi untuk belajar mencintai orang yang belum sempurna...
Dengan cara yang sempurna...
Dari episode hidup yang pernah kita lalui, ada banyak kesempatan menghentak kita, hanya sayang, kita selalu memilah dan menyenangi kesempatan yang menurut kita baik. Kesempatan itu biasanya yang membuat kita senang. Untuk itulah manusia selalu mengatakan "andai..."
"Andai saja aku dapat hadiah..."
"Andai saja aku dapat memilikinya..."
Ada 1001 andai yang bisa kita buat. Tapi manakala, kesempatan yang buruk datang, manusia cenderung menghindar, lari tak kunjung kembali. Al-Quran menyindir kita "dan ketika Dia mengujinya, lalu menyempitkan kesenangannya (rejeki), ia berkata "Tuhan tak sayang lagi padaku..."
Kemudian datanglah cinta. Ia datang seperti lautan maha lautan. Cintalah yang membuat kita mengerti bahwa segala sesuatu satu adanya. Dihadapan cinta, kita hanya melihat satu. Saat akal memilih cinta, ia hilangkan rasionalitas. Baginya hasil tiada penting, yang utama adalah mencintai itu, prosesnya, jalannya.
Syekh Abdul Qadir Jailani mengatakan, bahwa para pejalan cinta adalah orang-orang yang senantiasa menari diatas reruntuhan. Bila segala dunia ini jatuh, gempa, bencana, langit runtuh, para pencinta ini akan tetap menari. Segala ketidaksempurnaan dihadapan cinta akan musnah. Cinta hanya melihat kesempurnaan.
Tak apa dirimu tak sempurna. Tak mengapa pula, dunia menjadi terbalik. Keluh kesah dimana-mana. Saat cinta datang, ia hanya melihat keindahan. Keindahanmu, keindahan semua.
Seorang hamba Tuhan datang pada gurunya. Ia menceritakan bahwa ia sedang jatuh cinta. Sang guru tak marah, diam sejenak. Ia lantas mengatakan kepada muridnya, pergilah pulang. Jagalah cinta itu dalam hatimu saja. Lalu pulang lah si murid, meski agak kcewa, karena sepertinya tidak ada "follow up" dari guru, ia tetap ingat pesan guru. Ia tetap harus menjaganya.
Beberapa bulan sudah berlalu. Sang guru memamnggil muridnya kehadapannya. Lalu ia bertanya "bagaimana keadaanmu. bagaimana rasa cinta itu duhai anakku?"
Sang murid hanya terdiam. Mukanya tertunduk, air matanya berderai.
Ibnul Qoyiim dan Muthahari pernah menulis hadis Nabi Muhammad saw, "Barang siapa jatuh cinta, yang memendam cintanya, yang tawadhu dan mati dalam keadaan demikian, ia mati syahid."
Cinta itu luar biasa. Cinta suci dalam batinmu itu akan menghaluskanmu, menyucikanmu, akan membawamu kepada kedekatan pada pemilik cinta. Di dunia cinta, hanya tangisan yang bisa bicara. Yaaa...., tangisan hati. Rintihan hati suci kepada-Nya.
Jadi bila cinta melandamu, pilihlah itu. Bila kau amanah dalam menjaganya, dimana ia tetap suci, cinta itu akan membuatmu syahid. Kau akan menyaksikankan keindahan-Nya
Komentar
Posting Komentar