Doa Anak Negeri
Sinar mentari cantik berseri
Ada bangga lekat di hati
Semoga lestari, semoga abadi
Doa kami dari anak negeri
Suci dan subur kami berikan
Negeri ini tentram sentosa
Bangunlah semua, satukan cita
Tuk negeri tercinta Indonesia
Doa dari kami anak negeri
Semoga engkau melangkah pasti
dan teruskanlah pembangunan ini
dari generasi ke generasi.
..........
Doa kami tulus dan suci
Diatas adalah lirik sebuah lagu yang judulnya Doa Anak Negeri. Tapi bolehlah ya saya ijin untuk jadiin judul ditulisan ini, karena ini adalah doa saya sebagai anak negeri ini.
Kurang dari 24 jam tepatnya tgl 9 Juli 2014, kita akan melakukan pemilihan pemimpin untuk negeri ini. Jujur, ini adalah Pilpres terantusias saya setelah 2 kali Pilpres yang lalu. Entah kenapa, mungkin mulai terpanggil kali ya?
Jangan ditanya, apa yang terjadi selama menjelang pilpres berlangsung. Saling sikut, saling serang, saling tuding, saling tuduh, sampai yang paling keji saling fitnah, sampai Tuhan pun dikutsertakan, entah sudah ijin dulu atau tidak. Tidak ada satupun tindakan yang baik. Atau mungkin media lebih senang menampilkan jeleknya daripada baiknya. Entah siapa nanti yang akan menanggung dosa dari ini semua.
Negeri yang katanya menjunjung persatuan dan kesatuan tidaklah tercermin sama sekali. Negeri yang katanya menghargai perbedaan, justru malah sebaliknya. Kemana Indonesia saya? Yang katanya berbeda-beda tapi tetap satu jua? Ini baru dua beda saja sudah seperti mau perang rasanya.
Enam puluh sembilan tahun merdeka itu tidak membuat kita dewasa rupanya. Entah hilang kemana pelajaran yang pernah kita dapat disekolah dulu, tentang saling menghargai, saling menghormati, musyawarah. Omong kosonglah semua. Kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan. Tapi entah sejak kapan kalimatnya dibalik menjadi kepentingan pribadi dan golongan diatas kepentingan negara. Kalian pribadikah yang punya negara ini?
Semoga saja Pilpres ini bisa berjalan dengan damai, bukan rusuh seperti yang ditakutkan karena ada calon yang kalah. Sehingga kelak tidak akan menimbulkan trauma tersendiri bagi bangsa ini tentang pemilihan presiden. Menyembuhkan trauma itu susah.
Doa saya, sebagai anak negeri ini simpel saja kok. Semoga setelah tanggal 9 Juli nanti, Ibu saya masih bisa pergi ke pasar dengan perasaan tenang tanpa takut, semoga kakak saya masih bisa mengantar anak-anaknya pergi sekolah, semoga saya masih bisa terus bekerja mencari rejeki di negeri yang kaya ini, dan berkarya membangun marching band di Indonesia ini.
Semoga setelah Pilpres ini, bendera kita masih sama Merah Putih, bahasa kita masih sama Bahasa Indonesia, dan negara kita masih Negara Kesatuan Republik Indonesia. Amin.
Komentar
Posting Komentar